MANIAK

Aku adalah maniak. Boleh saja kamu muak. 

Matamu yang memancarkan keteduhan, aku suka. Bibirmu yang kerap melengkung ceria, aku suka.

“Bodoh!” kata mereka.

Pandaimu dalam bersikap, aku suka. Caramu meminta maaf, aku suka.

“Sok bijak!” kata mereka.

Porsi humormu, pas, aku suka. Bahkan, hobimu yang tidak lazim, aku suka.

“Aneh!” kata mereka.

Kuatmu memegang prinsip, aku suka. Diammu ketika menyimak, aku sangat suka.

“Sok idealis!” kata mereka.

“Hey, sepertinya ada yang berkomentar,” kataku.

“Aku tidak mendengar,” katamu.

“Oh, ya sudah. Aku juga tidak mendengar saja.” Aku tertawa, kamu tertawa. Aku … suka.

Distorsi gitarmu menyamarkan suara mereka. Sengaja. Biar lenyap. Dan aku suka.

Aku maniak padamu. Begitu juga kamu padaku. Boleh saja mereka muak.

____

Lusi S. Kagie

Kota Ikhlas, 14 Maret 2017

7:19 AM

____

*maniak: orang yang sangat menyukai sesuatu

*distorsi: kekacauan suara, salah satu efek gitar yang khas pada musik rock

#FiksiLusi #Maniak

Nasi Goreng Wistimewah

Nasi goreng adalah makanan khas Indonesia. Menu ini tentu punya banyak fans dari kalangan kakek nenek, bapak ibu, remaja setengah 4L4y, sampai anak kecil. Selain banyak ragamnya, bumbu dan cara memasaknya pun beda-beda.

Kali ini, saya mencoba memasak nasi goreng dengan tambahan daun salam. Saya yakin, bukan saya yang pertama kali melakukannya. Mungkin di antara kalian sudah ada yang bahkan sering menambahkan salam ini ke nasi goreng kalian saat dimasak. Tapi bagi yang belum pernah, cobalah sekali-sekali dan rasakan bedanya!

Caranya:

Siapkan nasi putih. Iris bawang merah, bawang putih, dan cabai (boleh ditumbuk, suka-suka aja). Banyaknya bumbu bergantung pada banyaknya porsi nasi atau selera masing-masing. Kadang ada juga kan yang ngerasa enek karena kebanyakan bumbu.

Panaskan wajan, tuang minyak goreng secukupnya untuk menumis bumbu. Jangan lupa kasih merica bubuk dan garam. Terakhir, kasih salam. 

“Assalamu’alaikum.”

Hey, bukan salam itu, gaes! -_- Daun salam. Daun. Daun salam.

Dan tunggu hingga aromanya tercium. Hati-hati, kecilin apinya saat numis bumbu ya. Kalo gosong kan malu juga sama pelanggan. #eh

Kalo mau pakai telur, boleh. Nggak juga nggak dosa. Sosis, baso, daging, dll boleh juga. Sawi, sangat boleh.

Lalu masukkan nasi. Tambahkan kecap dan saus kalo perlu. Aduk rata. Angkat. Taruh piring. Dan selamat menikmati. Nasi Goreng Wistimewah ala Chef Lusi. Wkwkwk.

Btw, ini nasi goreng terenak yang pernah saya masak. Dan maaf, lupa gak ambil foto. Keburu lafaarr.

Kalo kamu, suka masak nasi goreng apa dan bagaimana? Bagi tips boleh. Di komentar ya! 🙂

Aku Suka Jika Kamu Rajin Membaca

Bukan terlambat, ataupun terlalu cepat. Aku lahir di waktu yang tepat.

Sungguh, bukan itu. Segala tingkah polah, tidak melulu karena angka.

Maka, aku suka jika kamu rajin membaca. Apalagi sastra. 

Bukan apa-apa. Sudah kuamati beberapa. Mereka lebih dewasa karena melihati aksara. Mereka lebih peka karena pandai merasai nuansa. Mereka belajar dari banyak perkara. Meski tidak semua begitu adanya.

Setidaknya, mereka. Bukan sekadar menulis kosong tanpa membaca. Bukan sekadar berkelakar tanpa mendengar.

____

Lusi S. Kagie

Kota Ikhlas, 8 Maret 2017

8:46 AM

Hanya Rindu

Pada malam yang sendiri, aku mengingat namamu.

Rupanya, tak mudah untuk melupakan. Sesuatu yang pernah terjadi, melaluinya bersama-sama.

Aku ingat betul saat matamu merayu manja. Seakan meminta sesuatu. Tanpa sepatah kata pun, aku tahu. Melihat matamu lebih dalam, aku sangat tahu.

Aku ingat betul, saat kau duduk sendirian hanya untuk menatap langit pekat. Aku ikut duduk di sampingmu. Mendongak ke atas. Mencari-cari sesuatu. Tak ada. Bintang, bulan, semua sembunyi. Lalu, apa yang kau tatap? Apa yang kau lihat? Dan tiba-tiba aku ingin memelukmu.

Kaesa, di mana pun kau berada, semoga bahagia menyelimuti harimu.

Aku yang rindu,

Emak

#meong #kucingyanghilang

Lagu Pertama

Lagu apa yang pertama kali kamu buat?

Sebentar, saya ingat-ingat dulu. Karena ada lagu pertama yang belum bermelodi, masih berupa lirik. Emmm ada sih, lagu pertama yang sudah berwujud. Artinya, ada lirik dan melodi. Lucu sekali jika mengingatnya. Ternyata, saya pernah 4L4y.

Jadi, judulnya apa?

“Cinta Bukan Cinta”

Kalo bukan cinta, lalu apa?

Lalu apa hayooo? Baiklah jika memang harus diceritakan. Emmm tapi malu ah. *sambil nutup telinga*

Wah, wajib di-share ini …

Instrumentalnya aja mau?

Boleh. Instrumentalnya dulu, habis itu full lagu, ya!

Kayaknya sama aja deh ya. -_\\\

Tidak Perlu Obat Pegal Linu

Akhirnya, pegal-pegal di punggung dan bahu saya sudah sembuh.

Boleh cerita?

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat tugas kunjungan ke Kajen, Kab. Pekalongan. Perjalanan yang harus ditempuh berkisar satu jam.

Pagi hari sebelum berangkat, saya mengeluarkan motor beat warna hijau milik teman saya. Motor itu menginap di sini karena pemiliknya harus pergi. Jadi, saya pun harus memanasi motor tersebut meski tidak saya pakai.

Saat mengeluarkan motor, ada hal-hal yang harus saya lakukan, seperti memaju-mundurkan motor dan menggesernya karena mentok. Nah, karena salah teknik, bahu dekat leher saya pun terasa sangaaatt sakit sehari kemudian.

Saya pun cuek saja. Mungkin lelah karena habis naik motor PP 2 jam. Akan tetapi, rasa pegal tidak kunjung sembuh. Ternyata, tidur tak nyenyak itulah yang memperlambat pemulihan. Karena biasanya, ketika mudik dari Jogja ke Pemalang (6 jam di atas motor), rasa pegal akan hilang sehari kemudian. Beda dengan kasus ini. Empat hari baru sembuh.

Dua hari ini, tidurku sudah kembali nyenyak. Dan pegal pun hilang. Tadaaa!

Alhamdulillah.

Kamu pernah merasa pegal? Apa obatnya?

Di balik Kekuatan Besar, Ada Tanggung Jawab yang Besar

Judul di atas saya dapatkan dari ujaran seorang pria berambut putih. Tidak lain ialah Kakek Peter dalam Film Spiderman.

“Di balik Kekuatan Besar, Ada Tanggung Jawab yang Besar”

Kata kekuatan di sini dapat kita artikan sebagai apa saja. Ilmu, peran, amanat, jabatan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Katakan saja ini ilmu. Semakin banyak ilmu, semakin dipercaya banyak orang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Harapannya adalah semakin bermanfaat pula kita bagi orang banyak.

Katakan lagi itu sebagai peran. Seberapa besar kita mengambil peran dalam sesuatu, entah itu dalam keluarga, organisasi, dan sebagainya, semakin banyak pula tugas kita. Maka, semakin besar tanggung jawab.

Sementara itu, hidup ini hanyalah tentang berbuat dan bertanggung jawab. Apa yang kita perbuat, apa yang kita lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di kehidupan yang kekal. Pun tentang waktu yang kita sia-siakan di dunia. Mengerikan.

#SelfReminder

____

Kota Ikhlas, 2 Maret 2017

10:54 PM

(Ditulis dalam suasana yang diliputi beraneka ragam tanggung jawab)

Grup ODOP Itu Lucu

Melihat dan mengamati obrolan di grup WA, membuatku ketawa-ketawa sendiri. Iya gak masalah kalo sedang di kamar. Tapi ini saya lagi di tempat umum.
Mumpung sedang bisa bersantai, sambil duduk dan menunggu antrean, saya sempatkan untuk menengok keadaan grup. Risikonya, saya bisa tertawa sendiri saat mendapati obrolan yang menggelikan. Lalu saya tahan semaksimal mungkin agar tidak terbahak.

Habis ini, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Semoga ingatan tentang perbincangan lucu tadi tidak muncul ketika sedang di tempat selanjutnya.

Grup ODOP itu lucu. Selain lucu, kini menjadi semakin menantang dan menyeramkan. Sekian.

Ada yang ditanyakan?

Pujakesuma

Saya punya teman. Namanya Dewi Mariyana. Panggil saja Awie. Atau biasa kupanggil Kak Awie. Jika merasa masih terlalu panjang, kadang saya memanggilnya Mbak.

Dia mengaku sebagai Pujakesuma; Putri Jawa Kelahiran Sumatra. Bingung? Gak usah bingung. Udah, diiyain aja biar cepet.

Kali ini saya diminta untuk ngomongin orang, eh dia. Sebenarnya ini cukup panjang. Tapi, biar kusingkat saja.

Orangnya rame. Terlihat dari obrolan via grup chat di One Day One Post dan kadang juga japri. Sering ketawa, ramah, supel. Waktu dia telpon, ke-rame-an-nya nampak sekali terdengar. Adaaa aja yang bisa diobrolin. Pengalamannya segudang. Saya cukup jadi pendengar yang baik sambil mencatat poin pelajarannya. Widih, kayak anak rajin aja pake dicatet!

Selain rame, dia juga senang berbagi. Orang yang sudah mengenalnya pasti tahu betul akan hal ini.

Misterius. Di balik rame dan cerianya dia, tersimpan sesuatu yang cukup misteri. Itu bisa berupa kesedihan, kebimbangan, kerinduan, dan lain sebagainya. Hebatnya, ia bisa menyembunyikan semua itu, kecuali pada orang-orang tertentu yang ia percaya sepenuhnya.

Satu lagi deh, agak bandel sih kadang. 😀

Semoga sehat senantiasa, Kak Awie. :*

Baru Sekali

Seumur-umur, rasanya saya baru pernah naik ojek. Saat itu, satu kali itu.

Habis menginap dua minggu di RS Semarang menemani ibu, saya pun harus pulang ke Pemalang karena besok adalah hari terakhir pendaftaran masuk SMA. Bapak dan saya naik kereta malam. Badan lemas karena mual dan muntah sepanjang perjalanan. Setiba di stasiun Pemalang, sebenarnya Bapak sudah mengajak naik bus terakhir untuk pulang ke rumah. Tapi, saya bersikeras. Tidak mau!

Bapak pun menyerah dan lalu mengajakku naik ojek. Dalam hati, saya merasa bahagia meski fisik sudah tak berdaya dengan mata sayu dan muka lesu.

Ternyata, naik ojek itu rasanya seperti bonceng motor!

Kamu pernah naik ojek? Tulis pengalaman serumu di komentar ya!