Pak Tua dan Biji-biji Jagung

Alkisah, ada seorang kakek tua yang sangat tua. Rambutnya tidak ada satu pun yang hitam lagi. Semuanya putih dan mengilat. Kulit wajahnya keriput, tapi matanya memancarkan aura kebijaksanaan.

Kakek ini gemar memberi makan burung-burung dara di bekas lapangan bola voli yang terbengkalai. Setiap pagi dan sore, dia menebarkan biji-biji jagung dari sebuah kantung hitam berbahan kain tebal.

Namun, pada suatu pagi yang gelap, tidak ada satu pun burung dara yang mendatanginya. Udara sedang menghitam dan berkabut. Pak Tua bertanya-tanya dalam hati. Kedua alis kakek bertaut. Bola matanya mendadak layu. Kemudian mulai berair karena menahan perih asap hitam yang menyelimuti lapangan usang itu. Ia terlihat seperti menahan napas berkali-kali.

Biji-biji jagung di kantong hitam ia remas-remas dengan tangan yang mulai gemetar. Pak Tua berjongkok dan tetap menebarkan biji-biji kecil orange itu. Satu genggam telah ia tebar. Diambilnya lagi segenggam, lalu ditebarkannya lagi ke arah lain. Begitu seterusnya sampai habis. Kantongnya kini sudah kosong. Burung-burung itu tetap tidak datang.

Pak Tua bergerak perlahan. Tangannya memegang lutut untuk membantu dirinya sendiri berdiri tegak. Matanya melihat ke angkasa. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di atas sana karena semua terlihat begitu pekat. Menghitam akibat kebakaran hutan di pulau seberang.

Mungkin tugasnya sudah selesai. Burung-burung dara itu tak datang lagi. Bisa jadi mereka telah menemukan tuan baru di belahan bumi lain, yang lebih ramah dan berpihak pada penghuninya. Pada makhluk hidup, termasuk pada burung-burung dara.

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Petarukan, 31 Juli 2017

*Mencoba meniru gaya bercerita di buku Pintar Berbahasa Indonesia

Perihal Writer’s Block dan Ewer-Ewernya

Seorang penulis sangat mungkin mengalami writer’s block. Entah yang amatir maupun profesional. Ini ditandai dengan rasa malas menulis, layar kosong, kursor berkedip, ide mentok, kehilangan kata, dan gejala lainnya. Tentu, mereka punya tips sendiri untuk menyembuhkannya.

Saya pribadi lebih suka baca, jalan-jalan, nonton film, sepedaan, ngobrol sama anak kecil, sama bayi, sama kucing. Lebih banyak mendengar, lebih banyak merasa. Entah, bisa jadi itu adalah beberapa bentuk penyembuhan, atau mungkin pencegahan. Menutrisi diri agar tercipta daya imun terhadap writer’s block itu perlu, ‘kan?

Langkah kemudian yang saya lakukan adalah ‘memaksa menulis’, apapun itu. Tulisannya gak harus bagus. Nulis bebas aja. Apa yang saya pikirkan dan rasakan. Mirip seperti nulis diary. Tapi itu hanya pancingan saja. Untuk disuguhkan ke pembaca, tentu kita harus lebih bijak, memilih dan memilah.

Saat saya ‘memaksa’ untuk menulis yang lebih serius, otak saya mulai hangat. Seperti mesin yang lama tidak dihidupkan, lalu mencoba untuk dijalankan. Hasilnya? Haaa, tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Terus saja berjuang!

Berdiam diri, mengingat memori, merenung, berpikir, merasa, berimajinasi, membaca, mencari, berpikir lagi, merasakan lagi, menimbang, menulis, eksplorasi, lanjut menulis, menulis lagi, dan yeaaah, i’m free!

_____

Petarukan, 27 Juli 2017

7: 15 AM

Matahari, Jam Dinding, dan Sebuah Kisah

Ini benar-benar tidak mudah. Setelah apa yang kualami, mungkin tidak akan pernah lagi kuizinkan hatiku untuk berharap padanya. Pada makhluk itu, atau yang ini, atau yang lainnya lagi. Benar kata orang, kecewa adalah buah dari berharap pada makhluk.

Ini benar-benar tidak mudah. Aku memutuskan untuk bertahan pada pilihan yang kubuat sendiri. Meninggalkan wanita yang selama ini tulus menyayangiku itu sama dengan menyakiti diriku sendiri. 

Ini benar-benar tidak mudah. Aku mencintainya. Dan aku tahu, dia tidak mencintaiku. Dia … mencintai perempuan itu. Aku tidak peduli. Aku memang egois dan aku menikmatinya.

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Ia tahu, kapan harus menetes dan kapan harus bersembunyi. Aku sedih, tapi aku harus kuat. Tapi … apakah mungkin aku tegar untuk mengatakan “semoga kalian bahagia”?

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Meski dia tak pernah melihatku menangis, tapi nyatanya sekarang aku tersedu dalam gelap. Ini menyakitkan. Jika saja aku tidak buru-buru. Jika saja aku tahu lebih awal. Jika saja situasi tak mendesakku. Jika saja … ah!

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Bertahan pada pria yang tak mencintaiku memang menyedihkan. Aku tahu dia hanya berpura-pura di depanku. Berlagak peduli dan perhatian, namun matanya memancarkan hal lain. Jika saja aku tak mencintainya …

Matahari akan tetap terbit esok pagi, bukan? Semua akan berlalu. Dan ini pun akan berlalu. Hai kesedihan, aku akan memelukmu.

Matahari akan terbit esok pagi, bukan? Aku pasrah. Aku hanya perlu menjalani apa yang sudah menjadi keputusan. Esok, mungkin aku akan kembali mencarinya, atau tidak sama sekali. Entahlah. Sepertinya perasaan ini tidak akan berubah.

Matahari akan terbit esok pagi, bukan? Aku yakin dia akan mencintaiku suatu saat nanti. Jika itu tak terjadi, aku takkan menyerah begitu saja.

Aku adalah jam dinding. Sabar dan tunggulah. Waktu akan berpihak padamu, mu, dan mu.

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Petarukan, 23 Juli 2017

7:35 PM

#Fiksi #FiksiMini #FiksiLusi #TantanganKelasFiksi4

Bukan Pertemuan Terakhir

“Yang penting, jilbabin hati aja dulu! Sholatnya udah lima waktu belum, ngajinya udah bener belum, akhlaknya …”

Iya juga, ya. Belajar sholat aja baru kemarin-kemarin. Ngajinya masih terbata-bata. Apalagi akhlak? Tapi, bukankah perbaikan akhlak harusnya berlangsung seumur hidup?

“Kamu mau nunggu sampai kapan? Yakin besok-besok masih hidup?”

Ngeri …

Sarah meremas-remas jilbab putih yang telah lama dia simpan dalam lemari. Cermin di depannya memantulkan tatapan mata kosong dari seorang gadis. Ia melamun, cantik dengan rambut tergerai panjang.

Kalau aku pakai jilbab, nanti mirip emak-emak gimana? Nanti nggak bisa istiqomah gimana?

Sarah ragu-ragu mengikat rambutnya. Meraih ciput di atas meja rias dan memakainya untuk menutupi kepala. Ia terhenti sejenak, menatap kembali jilbab putih dan meremas-remas entah yang ke berapa kali.

Bodo amat, ini perintah Allah. Mau mirip emak-emak kek, mau dibilang sok iyes kek.

Sarah bergerak cepat mengenakan jilbab itu di kepalanya. Merapikan, mengulang-ulang, melihat wajahnya dari sisi kanan dan kiri, memakai jarum pentul di bawah dagu, dan terakhir mengenakan bros kecil di atas dada, dekat bahu kiri. Masih terlihat sedikit aneh, tapi dia tak peduli. Besok-besok masih bisa belajar memakainya lagi dengan lebih rapi. Mungkin begitu pikirnya.

Gadis bermata bulat itu melirik ke arah jam dinding. Bergegas meraih tas punggung, memakai sepatu flat, dan berjalan menuju gerbang. Siap dengan telinga kebal untuk tidak peduli lagi dengan penilaian manusia.

Aku adalah keraguan. Saatnya berpamitan. Selamat tinggal, Sarah. Ini bukan pertemuan terakhir. Sampai jumpa besok dalam situasi dan pilihan yang berbeda!

____

Petarukan, 19 Juli 2017

8: 26 AM

AKU YANG LAIN

“Halalkan atau putuskan aku!”

Uh, ngeri sekali wanita ini. Padahal jelas-jelas dia cinta mati sama Tuanku. Kalimat penuh risiko! Aku paham betul, bahasa yang dipakai wanita seperti dia. Meski tak pernah dia terangkan secara benderang perihal perasaannya, tapi dari kata-katanya sudah jelas: dia cinta Tuanku!

Kali ini, lihat, dia begitu tegas mengatakan kalimat itu. Entah, mungkin dia mulai lelah dengan semuanya. Perempuan mana yang tak butuh kepastian? Perempuan mana yang mau diombang-ambing dengan ‘komitmen palsu’ dalam sebuah hubungan yang tidak berbatas waktu? Bertahun-tahun lamanya, mirip kredit motor saja.

Tuanku memang setia. Bahkan, bisa kupastikan, dalam diriku tidak ada foto wanita mana pun kecuali perempuan ini. Tidak ada foto mantan. Bahkan, lagu yang mengingatkannya dengan mantan pun sudah dia hapus. Aku ikut lega.

Meski memang betul kata manusia, kenangan bisa terhapus dari memori ponsel, tapi tidak dari hatinya. Memang betul kata manusia, waktu adalah obat luka terbaik, tapi kenangan seringkali jahat. Kembali menghantui, kembali melukai, lagi dan lagi. Dan kamu tahu? Foto, lagu, kata-kata, dan segala tentangnya adalah pemicu paling baik untuk menghadirkan kenangan. Apalagi wujud nyata si doi, yang mungkin tidak sengaja bertemu pada sebuah titik waktu dan tempat. Atau ketika kamu mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang sering kalian lewati bersamanya. Itu pemicu paling baik dari yang terbaik.

Setidaknya, Tuanku sudah berusaha. Dia berusaha bersetia. Dia berusaha tidak membiarkan hatinya kembali mengorek sesuatu dari masa lalu. Fokus pada perempuan ini, yang sangat dia cintai. Lalu, aku sangat gemetar menunggu kalimat apa yang akan Tuanku ucapkan untuk menanggapi kalimat ngeri perempuan di hadapannya.

“Aku …”

Yakkk, ayo Tuan, kamu pasti bisa! Tatapanmu sudah sangat meyakinkan. Lanjutkan, Tuan!

“Aku …”

Oh, Tuhan. Biasanya juga lancar-lancar saja. Kenapa mendadak lidahmu kelu begini, Tuanku? Habis makan apa tadi? Aku sudah tidak sabar.

“Sarah, aku … akan menikah.”

Akan menikah? Akan menikahinya kan maksudnya? Menikahi Sarah, kan? Katakan lebih lengkap, Tuan!

“Maafkan aku.”

Ini acara apa sih? Kenapa mukanya mendadak sedih begitu? Bukankah Tuanku sedang melamar wanitanya? Aku tidak paham. Kenapa minta maaf segala? Lihat, Sarahmu terlihat kebingungan, Tuan.

“Aku sangat mencintaimu, tapi maaf … aku harus menikahi wanita lain.”

Wanita lain? Tunggu, siapa yang dimaksud wanita lain? Bukankah hanya ada foto Sarah di dalam diriku? Bukankah selama ini hanya ada Sarah pula di hatinya?

“Siapa?” Mata Sarah berkaca-kaca. Hatinya mungkin sudah tersedu, basah kuyup. Tapi aku tahu, dia menahannya.

Tiba-tiba, sebuah dering terdengar dari arah saku kiri milik Tuanku. Seperti suaraku, tapi sedikit berbeda. Ritmiknya lebih rapat dengan tempo lebih cepat. Aku cemburu. Sejak kapan Tuanku memiliki ‘aku yang lain’?

“Maaf, aku harus pergi sekarang, Sarah.” Kalimatnya singkat setelah mengambil dia yang berdering. Aku beku, Sarah juga. Senyum Sarah abadi dalam diriku, entah dalam hati Tuanku.

Copy of Screenshot_2017-07-13-15-26-03

____

Petarukan, 13 Juli 2017

3: 13 PM

#FiksiLusi #KelasFiksi
#TantanganFiksiMateri1

Bukan Kabar Bohong

Sebuah kabar mendarat

di telinga,
Mataku terkunci pada satu

titik acak

Tatapan tak bertuan

Jantungku seakan

terhenti,

tak berdenyut

lagi

Orang ramai di sekitarku mendadak

berhenti bergerak

Mata mereka terkunci pada

kedua bola mataku, menegang!
Tidak ada air mata

Namun

Luka

Tulangku sudah

Lenyap

Yang bising menjadi

Senyap

Semua kosong
“Jenazahnya hampir sampai!” kata pria tinggi itu.
Ibu pulang,

itu bukan kabar bohong.

Batinku melompong.
____

Lusi S. Kagie

Petarukan, 8 Mei 2017

10.33 PM

Satu Bagian yang Meminta Seribu Pekikan

“Aw!!”

Aku menatap ke arah jendela kaca, menembus ke sebuah pemandangan yang sangat biasa. Riuh suara kendaraan beroda dua, empat, dan sesekali yang beroda tiga pun lewat dengan hening.

“Aduh!!”

Baru saja emak-emak lewat membawa keranjang belanjaan di jok belakang. Suara pekikan demi pekikan seringkali terdengar. Mengalihkan fokus pikiranku yang sedang entah ke mana.

“Astaghfirullah!”

Satu motor lagi lewat membawa dua manusia bersorban. Mereka tak kalah kaget ketika melewati bagian itu.

“Mamak!!”

Satu lagi suara cempreng yang sangat melengking keluar dari mulut seorang gadis ABG berambut basah. Nampaknya baru keramas. Mukanya terlihat sangat lebih putih dari warna kulit leher, tangan, dan kakinya.

Semakin banyak suara-suara yang terdengar itu, aku semakin diam tak peduli. Satu bagian yang menganga itu telah meminta seribu pekikan, juga tumbal!

– Lusi S. Kagie –

Kota Ikhlas, 26 April 2017

5: 38 PM

​Efek Samping Hidup Sendiri

Jadi, tadi malam Hacker masuk ke kamarku dengan tergopoh-gopoh.

“Bulik bulik, tadi aku denger efek samping hidup sendiri. Banyak banget!” Dia memasang muka tegang.

Seketika aku terbahak.

“Denger di mana?” tanyaku.

“TV. Film!” Matanya setengah melotot.

“Emang apa efek sampingnya?” Aku akting agak serius dan antusias demi mendengar jawabannya yang mungkin akan sangat penting untuk diketahui spesies jomblo di seluruh dunia.

“Emmm,” Hacker berpikir keras. Kemudian, kembali berujar, “Lupa. Pokoknya banyak!”

😶

END

#hackermaker #keponakansematawayang

Pesona Wisata Pantai Widuri di Pemalang

Kabupaten Pemalang terletak di antara Tegal dan Pekalongan, Jawa Tengah. Berkunjung ke kota Pemalang belum lengkap rasanya jika tidak menyambangi pantai ini, Widuri. Nama ‘Widuri’ berasal dari legenda Nyi Widuri. Konon, dia adalah seorang perempuan cantik jelita yang hidup di desa tersebut.

Letak pantai ini tidak jauh dari pusat kota. Dari alun-alun kota, kamu bisa melihat jalan lurus ke arah utara. Ke sanalah jalan yang harus kau tuju. Sekitar 15 menit kemudian kamu akan sampai di lokasi.

Sebelum masuk ke area pantai, kamu akan dimintai uang retribusi. Untuk kendaraan mobil, Rp 5.000,-. Dan untuk kendaraan roda dua … maaf saya lupa. Yang pasti, lebih murah dari mobil.

Kemudian kamu bisa langsung parkir di area yang telah disediakan. Harga tiket masuk ke area pantai relatif murah, yaitu Rp 4.000,- per orang. Sedangkan harga masuk ke area bermain (Widuri Waterpark) yaitu Rp 15.000,- saja, yang bisa kamu kunjungi bersama keluarga untuk berenang dan permainan air lainnya.

Kolam renang di Area Waterpark

Masuk ke tempat wisata ini kamu akan disuguhi banyak pepohonan tua dan besar yang cukup rindang. Di bawah pohon-pohon tersebut banyak wisata kuliner yang bisa kamu coba, seperti gethuk goreng, pisang cokelat, manisan, gorengan, dan masih banyak lagi lainnya. Ada juga yang jual sandal, tas, kaos, dan aksesoris.

Ada rumah pohon, tapi sayang lagi rusak.

Untuk menuju ke bibir pantai, kamu harus berjalan sekitar 5 menit saja. Dan kamu bisa melihat sebuah pemandangan air biru kehijauan yang luas, lengkap dengan deru ombaknya. Di bibir pantai, kamu juga bisa menikmati kuliner, seperti mendoan, pecel, lontong, kelapa muda, kopi, dan lain-lain sambil menikmati semilir angin.
Yang tak kalah eksotis dari pantai ini adalah adanya dermaga yang memanjang ke arah laut. Untuk menaikinya, kamu harus masuk dulu dari arah Widuri Waterpark. Seru loh. Buat foto pasca-wedding juga oke. He he.

View Pantai

Dalam moment tertentu, disediakan pula panggung hiburan yang tak jauh dari pantai. Ada juga arena sirkuit. Dan tadi saya melihat, sepertinya ada GOR yang baru dibangun.

Demikian gambaran singkat dari Wisata Pantai Widuri. Penasaran? Datang aja! Atau ada yang sudah pernah ke sana? 

[Original Song] Yuk, Baca Buku! (Draft)

Lirik: Lusi S. Kagie & Indra Wuri
Lagu: Indra Wuri

[VERSE 1]
Kupandangi
Pesona cover depannya
Tiap kali ku berjumpa dengannya

Pelan kurasakan
Halus tekstur lembarnya
Tiap kali ku berjumpa dengannya

[CHORUS]
Yuk, baca buku!
Untuk menambah ilmu
Yuk, baca buku!
Menambah wawasan kita

Yuk, baca buku!
Untuk menambah ilmu
Yuk, baca buku!
Membuka jendela dunia

[POST CHORUS]
Yuk, baca buku!
Yuk, baca buku!
Yuk, baca buku!
Yuk, baca bukunya!

[VERSE 2]
Kuhirup
Aroma khas kertasnya
Tiap kali ku berjumpa dengannya

Kudengarkan
Aksara menggema di hati
Tiap kali ku berjumpa dengannya

CHORUS

[POST CHORUS]
Yuk Baca Buku
Yuk Baca Buku
Yuk Baca Buku (Jendela Dunia)
Yuk Baca Buku (Jendela Dunia)