Merasakan Pingsan (Lagi)

Minggu pagi, kandunganku sudah memasuki usia 24w6d. Rasanya waktu berjalan begitu cepat.

Mumpung suami libur, aku putuskan untuk ‘pacaran’ bersamanya, naik motor, melihat sekeliling, menghirup udara pagi yang cukup dingin, dan berhentilah kami di sebuah taman perumahan sebelah.

Di sana banyak remaja dan ibu-ibu yang beristirahat usai berolahraga. Makan jajan sambil duduk-duduk adalah pilihan terbaik bagi mereka. Aku yang tak begitu lapar tapi ingin mengunyah pun request ke suami untuk beli tahu bulat (yang jingle-nya kali ini dinyanyikan pakai nada Sunda). Aku hanya duduk saja dan menungguinya. Di samping kananku ada seorang ibu dan beberapa anak remaja yang sedang makan jajan juga.

Begitu tahu bulat sudah di tangan, aku minta pindah tempat duduk karena kurang nyaman dengan kebersihannya. Hanya 2 meter dari tempat duduk asalku. Ternyata, suamiku membeli bakso goreng pula yang digoreng dadakan mirip tahu bulat, sama-sama mengembang dan bulat. Aku ingin mencicipi baksonya karena penasaran. Mulutku yang sedang sariawan pun terpaksa harus menahan sakit beberapa kali ketika makan. Dan itu hanya bertahan pada satu gigit bakso saja, tahu bulatnya bahkan batal kumakan.

Aku putuskan untuk menikmati suasana saja dan melihati suamiku makan jajan (rada ngeces nih, wkwk). Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku merasa lemas, dingin, dan pandanganku semakin kabur. Seketika aku memegang tangan suamiku dan berkata apa yang kurasakan saat itu. Mataku semakin tak bisa membuka dengan sempurna. Aku langsung bersandar di bahunya karena takut terjatuh. Itu hal yang belum pernah kulakukan di tempat umum. Ingiiin rasanya aku berbaring saking lemasnya. Beberapa detik setelahnya aku sudah tidak sadar dengan apa yang terjadi, hingga kemudian aku mulai mendengar suamiku memberi instruksi untuk menarik napas dalam. Aku manut saja dan melakukannya 3 kali. Pandanganku mulai jelas, badanku mulai pulih. Tapi rasa dingin dan lemasnya masih menempel.

Setelah agak baikan, kami putuskan untuk pulang saja. Di tengah jalan, aku sempat muntah sedikit, entah, mungkin karena masih merasa dingin.

Sampai kamar, aku langsung berbaring tak berdaya. Memutuskan tidur dengan baluran minyak kayu putih yang cukup banyak.

Setelah membaik dan terbangun, barulah suamiku bercerita lebih detail tentang apa yang terjadi ketika aku tak sadarkan diri. Tubuhku doyong ke depan, hampir terjatuh katanya. Dan dia menopangku dari depan. Bahkan, suamiku tak tahu saat itu kalau aku pingsan. Mungkin dikira lemas saja dan ingin tidur.

Apa kalian pernah pingsan? Bagaimana rasanya?

Iklan

Hacker, Slime, dan Sulap

Siang tadi, tiba-tiba hatiku terserang rindu pada gadis kecil itu. Kuambil ponsel, membuka WA, mencari nama kakakku, lalu kutekan tombol mirip kamera video di sudut kanan atas. Video call.

Yang mengangkat adalah yang kurindukan tentu saja. Setelah kuucapkan salam, aku memulai.

“Sedang apa?”

“Main slime.”

“Ibu di mana?”

“Di kamar.”

“Babe?”

“Nonton bola, tapi tidur.”

“Oh, kamu main sendirian?”

“Iya. Eh, ini lagi main sama Bulik,” ucapnya sembari tertawa kecil.

Mendadak hatiku trenyuh. Kalau saya lagi di rumah, Hacker sering sekali menyambangi kamarku untuk main bareng, apapun.

Kini, kami hanya bisa bertatap via ponsel berukuran segenggaman tangan saja. Belum lagi jika sinyal sedang ngajak berantem. Hanya terdengar suaranya saja yang “ak uk ak uk” dan gambar muka imutnya yang patah-patah.

Obrolan berlanjut begitu menyenangkan. Dia pamerkan mainan slime yang baru dibeli, juga memperagakan dua teknik sulap baru yang cukup menarik. Yang pertama memakai dua karet gelang. Yang kedua dengan uang kertas lima ribuan.

VC 15 Juli 2018

Sayangnya, obrolan harus usai karena baterai lemah pada ponsel yang digenggam Hacker. Baiklah. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

Makanan Paling Enak

Saya yang mabok beberapa hari ini, benar-benar tidak ada minat sama sekali untuk menjamah dapur. Bahkan, lebih gawatnya lagi, saya mulai mual saat memakan masakan warung langganan yang sebulanan ini menjadi favorit ketika saya gak masak. Terus gimana ini solusinya? Saya sedih dengan keadaan ini.

Dalam keterpurukan ini, suamiku bertanya, “Mau makan apa?”

Karena bingung, saya pun menjawab apa yang terlintas di benak saya saat itu, “Telur dadar.” Sepertinya enak.

Pria yang sekarang tinggal bersamaku itu bergegas membuatkannya untukku.

Rasanya enak, lidah saya bisa menerimanya dengan sangat baik.

Tadi malam, suamiku menanyakan hal yang serupa, “Mau sarapan apa besok pagi?”

Saya pun menjawab hal yang sama, “Telur dadar.”

“Ok. Aku keluar dulu, ya. Mau beli telur.”

“Emang habis?”

“Tinggal satu.”

Malam itu juga, dia keluar membeli telur, juga buah, rempeyek kacang, dan sambel pecel (yang saya request) untuk menu beberapa hari ke depan. Beberapa hari ini selama saya mabok, memang hanya menu itu yang bisa masuk perut, apel dan pecel madiun. Yang lain sepertinya saya kehilangan selera. Liat aja agak enek.

Dan, pagi ini, sebelum suamiku berangkat kerja, dia sempatkan untuk menemaniku jalan pagi, dan cuci piring, dan beli galon, dan masak! Aku seperti menjadi wanita paling bahagia di dunia sekaligus sedih karena belum bisa melakukan hal itu sendiri.

Telur dadar dan tempe (yang agak gosong, tapi justru enak dimakan ini) resmi menjadi menu sarapanku pagi ini. Masakan paling enak dari Chef Ganteng sedunia!

Sangat bersyukur bisa hidup bersamamu. Allah Maha Baik.

Kehilangan Pena

Mungkin benar kata seorang kawan, aku telah kehilangan pena.

Aku lupa menaruhnya di mana. Pena hitam legam dengan ujung pena yang biasa saja itu terlepas dari tanganku. Tapi tak kuingat dengan jelas di mana kejadian itu. Hiruk pikuk menuju sebuah kehidupan baru membuatku lupa banyak hal. Dan lagi, kini, subjek tulisanku, si tokoh utama itu, si kecil yang menggemaskan itu, bocah antimainstream itu, gadis kecil tengil itu, makhluk pemakan keju itu, kini telah berjarak denganku dalam arti yang sebenarnya.

Harusnya aku segera menemukan subjek baru. Ada, tapi dia terlalu berharga untuk kuceritakan. Aku takut kamu jatuh cinta padanya. Jangan ya, aku saja. Aku saja!

Baiklah. Sampai di sini ocehan berakhir. Sampai jumpa di ocehan berikutnya. Nanti, jika pena itu telah kembali tergenggam.

Salam dingin.

Sekarang, Aku Memiliki Kenangan

Sekarang, aku memiliki kenangan indah tentang hujan. Tentang jas hujan yang kukenakan, tentang kubangan air yang muncrat membasahi kaki, tentang nuansa ramai jalan raya, tentang lampu-lampu malam. Semuanya masih saja indah saat itu terulang meski tanpamu.

Sekarang, aku memiliki kenangan indah di pertokoan sepanjang jalan itu. Mencari-cari sesuatu denganmu begitu menyenangkan meski kedua kaki serasa hampir putus.

Sekarang, aku memiliki kenangan indah di jalan sekitar desaku. Tentang sore yang sedikit gerimis, tentang udara segar yang kurasakan jelas di sekitar telinga karena tak pakai helm, tentang jeda kosong di antara kita, tentang fungsi pegangan di belakang jok motor, tentang deru kendaraan di sekitarnya, dan tentang apa saja yang terlewati kala itu.

Sekarang, aku memiliki kenangan indah pada ruang tamu. Pada sofa hijau berbunga orange, pada meja kaca dan penutupnya, pada toples-toples, pada gelas berisi teh tawar yang katamu manis, bahkan pada gadis kecil dengan segala tingkahnya yang turut ‘mewarnai’ beberapa pertemuan kita.

Aku senang memiliki semua kenangan itu, meski menuai siksaan rindu kala kau tak di sini lagi. Dan benar kata seseorang, “Rindu itu anarkis dan ugal-ugalan. Sayangnya, dia tak pernah libur.”

Petarukan, 12-12-17

6: 49 AM

SATU HARI (LAGI)

Aku ingin memiliki satu hari lagi, untuk kulalui bersamamu.

Kita berjalan. Berdua. Ke mana pun. Sesuka kita.

Kemudian melakukan hal yang tak pernah kita lakukan: ngobrol.

Kesempatan itu bahkan tak pernah memihak kita. Aku ingin menatap lebih dalam melalui iris matamu. Kemudian tersenyum. Mungkin juga tertawa. Menertawakan tingkah kita yang canggung. Lalu kau bertanya, “Ada yang lucu?” sambil tetap tertawa.

Dan tentu saja aku menjawabnya dengan tertawa. Lalu mengambil napas lebih dalam. Mengembuskannya seketika. “Kita benar-benar konyol!”

Rasa-rasanya memang takkan ada yang lebih berharga dari kesempatan. Hingga kita terus mencarinya. Mencarinya.

Yang pada akhirnya, kita harus saling merelakan. Menyisakan sisa-sisa sesak rindu pada setiap malam yang akan terlampaui setelah ini.

Dan tentu saja: semua akan berlalu (lagi).

*Backsound: Everytime – Simple Plan (sumber inspirasi tulisan)

Petarukan, 18/09/17

7: 41 PM

Pak Tua dan Biji-biji Jagung

Alkisah, ada seorang kakek tua yang sangat tua. Rambutnya tidak ada satu pun yang hitam lagi. Semuanya putih dan mengilat. Kulit wajahnya keriput, tapi matanya memancarkan aura kebijaksanaan.

Kakek ini gemar memberi makan burung-burung dara di bekas lapangan bola voli yang terbengkalai. Setiap pagi dan sore, dia menebarkan biji-biji jagung dari sebuah kantung hitam berbahan kain tebal.

Namun, pada suatu pagi yang gelap, tidak ada satu pun burung dara yang mendatanginya. Udara sedang menghitam dan berkabut. Pak Tua bertanya-tanya dalam hati. Kedua alis kakek bertaut. Bola matanya mendadak layu. Kemudian mulai berair karena menahan perih asap hitam yang menyelimuti lapangan usang itu. Ia terlihat seperti menahan napas berkali-kali.

Biji-biji jagung di kantong hitam ia remas-remas dengan tangan yang mulai gemetar. Pak Tua berjongkok dan tetap menebarkan biji-biji kecil orange itu. Satu genggam telah ia tebar. Diambilnya lagi segenggam, lalu ditebarkannya lagi ke arah lain. Begitu seterusnya sampai habis. Kantongnya kini sudah kosong. Burung-burung itu tetap tidak datang.

Pak Tua bergerak perlahan. Tangannya memegang lutut untuk membantu dirinya sendiri berdiri tegak. Matanya melihat ke angkasa. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di atas sana karena semua terlihat begitu pekat. Menghitam akibat kebakaran hutan di pulau seberang.

Mungkin tugasnya sudah selesai. Burung-burung dara itu tak datang lagi. Bisa jadi mereka telah menemukan tuan baru di belahan bumi lain, yang lebih ramah dan berpihak pada penghuninya. Pada makhluk hidup, termasuk pada burung-burung dara.

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Petarukan, 31 Juli 2017

*Mencoba meniru gaya bercerita di buku Pintar Berbahasa Indonesia

Perihal Writer’s Block dan Ewer-Ewernya

Seorang penulis sangat mungkin mengalami writer’s block. Entah yang amatir maupun profesional. Ini ditandai dengan rasa malas menulis, layar kosong, kursor berkedip, ide mentok, kehilangan kata, dan gejala lainnya. Tentu, mereka punya tips sendiri untuk menyembuhkannya.

Saya pribadi lebih suka baca, jalan-jalan, nonton film, sepedaan, ngobrol sama anak kecil, sama bayi, sama kucing. Lebih banyak mendengar, lebih banyak merasa. Entah, bisa jadi itu adalah beberapa bentuk penyembuhan, atau mungkin pencegahan. Menutrisi diri agar tercipta daya imun terhadap writer’s block itu perlu, ‘kan?

Langkah kemudian yang saya lakukan adalah ‘memaksa menulis’, apapun itu. Tulisannya gak harus bagus. Nulis bebas aja. Apa yang saya pikirkan dan rasakan. Mirip seperti nulis diary. Tapi itu hanya pancingan saja. Untuk disuguhkan ke pembaca, tentu kita harus lebih bijak, memilih dan memilah.

Saat saya ‘memaksa’ untuk menulis yang lebih serius, otak saya mulai hangat. Seperti mesin yang lama tidak dihidupkan, lalu mencoba untuk dijalankan. Hasilnya? Haaa, tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Terus saja berjuang!

Berdiam diri, mengingat memori, merenung, berpikir, merasa, berimajinasi, membaca, mencari, berpikir lagi, merasakan lagi, menimbang, menulis, eksplorasi, lanjut menulis, menulis lagi, dan yeaaah, i’m free!

_____

Petarukan, 27 Juli 2017

7: 15 AM

Matahari, Jam Dinding, dan Sebuah Kisah

Ini benar-benar tidak mudah. Setelah apa yang kualami, mungkin tidak akan pernah lagi kuizinkan hatiku untuk berharap padanya. Pada makhluk itu, atau yang ini, atau yang lainnya lagi. Benar kata orang, kecewa adalah buah dari berharap pada makhluk.

Ini benar-benar tidak mudah. Aku memutuskan untuk bertahan pada pilihan yang kubuat sendiri. Meninggalkan wanita yang selama ini tulus menyayangiku itu sama dengan menyakiti diriku sendiri. 

Ini benar-benar tidak mudah. Aku mencintainya. Dan aku tahu, dia tidak mencintaiku. Dia … mencintai perempuan itu. Aku tidak peduli. Aku memang egois dan aku menikmatinya.

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Ia tahu, kapan harus menetes dan kapan harus bersembunyi. Aku sedih, tapi aku harus kuat. Tapi … apakah mungkin aku tegar untuk mengatakan “semoga kalian bahagia”?

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Meski dia tak pernah melihatku menangis, tapi nyatanya sekarang aku tersedu dalam gelap. Ini menyakitkan. Jika saja aku tidak buru-buru. Jika saja aku tahu lebih awal. Jika saja situasi tak mendesakku. Jika saja … ah!

Bahkan air mata ini selalu jujur padaku. Bertahan pada pria yang tak mencintaiku memang menyedihkan. Aku tahu dia hanya berpura-pura di depanku. Berlagak peduli dan perhatian, namun matanya memancarkan hal lain. Jika saja aku tak mencintainya …

Matahari akan tetap terbit esok pagi, bukan? Semua akan berlalu. Dan ini pun akan berlalu. Hai kesedihan, aku akan memelukmu.

Matahari akan terbit esok pagi, bukan? Aku pasrah. Aku hanya perlu menjalani apa yang sudah menjadi keputusan. Esok, mungkin aku akan kembali mencarinya, atau tidak sama sekali. Entahlah. Sepertinya perasaan ini tidak akan berubah.

Matahari akan terbit esok pagi, bukan? Aku yakin dia akan mencintaiku suatu saat nanti. Jika itu tak terjadi, aku takkan menyerah begitu saja.

Aku adalah jam dinding. Sabar dan tunggulah. Waktu akan berpihak padamu, mu, dan mu.

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Petarukan, 23 Juli 2017

7:35 PM

#Fiksi #FiksiMini #FiksiLusi #TantanganKelasFiksi4

Bukan Pertemuan Terakhir

“Yang penting, jilbabin hati aja dulu! Sholatnya udah lima waktu belum, ngajinya udah bener belum, akhlaknya …”

Iya juga, ya. Belajar sholat aja baru kemarin-kemarin. Ngajinya masih terbata-bata. Apalagi akhlak? Tapi, bukankah perbaikan akhlak harusnya berlangsung seumur hidup?

“Kamu mau nunggu sampai kapan? Yakin besok-besok masih hidup?”

Ngeri …

Sarah meremas-remas jilbab putih yang telah lama dia simpan dalam lemari. Cermin di depannya memantulkan tatapan mata kosong dari seorang gadis. Ia melamun, cantik dengan rambut tergerai panjang.

Kalau aku pakai jilbab, nanti mirip emak-emak gimana? Nanti nggak bisa istiqomah gimana?

Sarah ragu-ragu mengikat rambutnya. Meraih ciput di atas meja rias dan memakainya untuk menutupi kepala. Ia terhenti sejenak, menatap kembali jilbab putih dan meremas-remas entah yang ke berapa kali.

Bodo amat, ini perintah Allah. Mau mirip emak-emak kek, mau dibilang sok iyes kek.

Sarah bergerak cepat mengenakan jilbab itu di kepalanya. Merapikan, mengulang-ulang, melihat wajahnya dari sisi kanan dan kiri, memakai jarum pentul di bawah dagu, dan terakhir mengenakan bros kecil di atas dada, dekat bahu kiri. Masih terlihat sedikit aneh, tapi dia tak peduli. Besok-besok masih bisa belajar memakainya lagi dengan lebih rapi. Mungkin begitu pikirnya.

Gadis bermata bulat itu melirik ke arah jam dinding. Bergegas meraih tas punggung, memakai sepatu flat, dan berjalan menuju gerbang. Siap dengan telinga kebal untuk tidak peduli lagi dengan penilaian manusia.

Aku adalah keraguan. Saatnya berpamitan. Selamat tinggal, Sarah. Ini bukan pertemuan terakhir. Sampai jumpa besok dalam situasi dan pilihan yang berbeda!

____

Petarukan, 19 Juli 2017

8: 26 AM