Misteri Akun Miss DT

profil-feminin-fb_17

Bersosial media memungkinkan kita untuk berhubungan dengan banyak orang dari penjuru dunia. Sebagian menampilkan secara terang-terangan siapa mereka dan sebagiannya lagi menyembunyikan identitas aslinya. Ada banyak faktor mengapa mereka menyembunyikan identitasnya.

Well, setiap orang berhak atas keputusan mereka dalam menampilkan atau menyembunyikan jati diri di media sosial. Akan tetapi, ketika sudah mengarah pada hubungan kerjasama yang lebih serius, alangkah baiknya mereka saling mengenal, bukan? Bahkan sebagian orang menilai bahwa ini termasuk etika dalam bekerjasama.

Bayangkan saja, ada seorang pembeli ingin membeli sesuatu dari seorang penjual. Sementara penjual tersebut memakai topeng. Tentu saja pembeli merasa tidak nyaman saat ingin melakukan transaksi, bukan? Padahal, kepercayaan adalah satu hal utama untuk dapat membangun kerjasama yang baik.

Beberapa hari ini, hal itu terjadi dalam sebuah Grup Facebook. Keadaan yang tadinya adem ayem, kini dihebohkan dengan kehadiran sebuah akun penuh misteri. Foto profil bergambar siluet perempuan berwarna abu-abu polos memunculkan tanda tanya besar saat dia menawarkan suatu kerjasama yang cukup serius; jual beli lagu.

Akun berinisial DT mengaku bahwa dia adalah seorang produser pemula yang ingin membeli 10 lagu dari para penulis lagu di grup ini. Tujuannya adalah untuk dipakai dalam proyek album kompilasi yang ingin dia produksi, yang kemudian akan dia kirim ke label. Satu lagu akan dia beli senilai Rp xxx.000,- tanpa royalti. Sebuah nilai yang cukup fantastik! Sangat murah untuk harga lagu dari seorang pemula sekalipun. Ok, mungkin tidak semua orang melihat dari nilai angka, tetapi dari segi penghargaan atas sebuah karya musik, nilai ini sangat menyinggung perasaan, apalagi lagu tersebut untuk dikomersilkan. Berbeda halnya jika pencipta lagu mendapatkan royalti ketika lagu tersebut sudah beredar dan laku. Maka angka ini mungkin saja bisa diabaikan. Berbeda hal lagi jika lagu ini tidak untuk dikomersilkan, alias untuk kepentingan sosial tanpa budget. Maka, saya yakin para pencipta lagu akan dengan suka rela membantu apa yang bisa dilakukan asalkan fair dan transparan.

Dengan melihat angka tersebut, para penulis lagu pun berontak dan menyatakan tidak setuju baik secara terang-terangan atau dengan sedikit halus. Akhirnya, Miss DT pun menyadari kesalahannya. Sistem jual beli putus dengan nilai xxx ribu kini berubah menjadi sistem royalti. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal. Identitas Miss DT belum juga terkuak. Ada apa gerangan? Mengapa dia menyembunyikan identitas? Simak baik-baik informasi berikut!

Berdasarkan keterangan langsung dari Akun Miss DT, dalam proyek kompilasi ini, ia memakai metode audisi untuk menjaring lagu-lagu terbaik. Audisi dilakukan via telepon. Ia tidak mau mendengar rekaman atau audio yang sudah dibuat sebelumnya oleh penulis lagu. Ia ingin mendengar penulis lagu menyanyikannya LIVE. Ada dua alasan yang ia utarakan: 1) Ia ingin mendengar getaran/feel lagu dari pencipta lagunya, 2) Dia menginginkan lagu original yang belum pernah direkam maupun di-share sebelumnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: 1) Apakah ia tidak dapat menangkap feel dari audio yang dibuat penulis lagunya? 2) Bagaimana dia bisa yakin bahwa lagu yang di-submit via telepon adalah lagu original yang belum pernah direkam atau di-share? Baiklah, satu kesimpulan kecil: dia adalah manusia berdominan otak kanan. Hal ini nampak pula pada gaya berbahasa saat menjelaskan secara tertulis di forum diskusi. Cenderung acak, lompat-lompat, dan meletup-letup. Terlebih ia memang lebih tertarik di bidang musik dan mengedepankan emosi atau perasaan.

Selanjutnya, mari kita pelajari dari testimoni orang yang pernah meneleponnya. Orang pertama mengatakan bahwa Miss DT bersuara perempuan dan bukan tipe perempuan bersuara seksi (ngerti kan maksudnya?). Yup, dia bukan ‘wanita penggoda’. Artinya, salah satu kemungkinan modus tersebut bisa kita coret. Orang pertama ini juga menebak bahwa Miss DT adalah perempuan ambisius dengan pengetahuan minim dalam menilai lagu secara teoritis. Dia tidak bisa menjelaskan dengan ilmu perihal indikator lagu bagus dan tidak. Akan tetapi, ia lebih menekankan feel lagunya, simplicity, dan tingkat easy listening-nya. Penilaian ini cukup subjektif karena setiap orang punya kriteria tersendiri perihal lagu enak dan tidak.

Kesimpulan kedua dari penelepon pertama adalah perempuan ini gaptek alias gagap teknologi. Ia belum mengerti bagaimana mengakses soundcloud, youtube, dan lain-lain, yang notabene adalah hal yang tidak jauh-jauh dari para pelaku industri musik. Penelepon pertama ini menebak bahwa ponsel yang digunakan Miss DT bukanlah ponsel android. Atau saya berkesimpulan sendiri bahwa ponselnya baru beli dan belum mahir mengoperasikannya. Mungkin itulah sebabnya, ia tidak memasang foto profil karena belum bisa mengoperasikan ponsel baru. Juga pernah saya tambahkan ke pertemanan facebook saya, lalu saya kirim satu pesan inbox. Sampai sekarang request tersebut belum dikonfirmasi dan pesan pun belum terbaca. Saya semakin yakin terhadap kesimpulan ini.

Lanjut ke testimoni penelepon kedua. Ia menyampaikan hal yang tidak jauh berbeda dengan penelepon pertama perihal Miss DT ini. Perempuan misterius ini bukan pendengar musik yang baik, katanya. Analisis terhadap lagu yang di-submit oleh penelepon kedua juga kurang mendalam. Bahkan, Miss DT lebih mengomentari suara atau kemampuan vokal si pencipta lagu daripada lagu itu sendiri. Baik, hipotesis selanjutnya adalah dia belum profesional di bidang ini. Artinya, dia masih belajar dan meraba-raba dalam menilai lagu. Memilih lagu berdasarkan feeling, atas dasar suka dan tidak suka. Sebenarnya sah-sah saja jika dia adalah pendengar awam. Akan tetapi, profesi seorang produser seyogyanya bersikap lebih objektif dalam menilai lagu. Meskipun, intuisi juga tidak kalah penting!

Berdasarkan informasi dan uraian analisis di atas, maka saya berkesimpulan bahwa dia adalah orang baik (bukan orang jahat yang ingin menipu), hanya saja, dia terlalu berambisi dan kurang mengerti bagaimana seharusnya ia bertindak untuk meraih mimpinya. Ia memilih jalan pintas, cepat, dan simpel, tetapi kurang efektif. Kecerdasan emosionalnya belum begitu matang. Ini terlihat ketika ia belum cukup tenang dan bijak dalam menanggapi komentar negatif dari lingkungannya. Sebenarnya ada satu lagi kemungkinan lain perihal kerahasiaan identitasnya. Mungkin dia memiliki trauma karena pernah diperlakukan tidak baik (bullying) di media sosial karena perilakunya ini. Mungkin, inilah alasan mengapa ia menyembunyikan identitasnya sampai saat ini.

Kalau kamu punya hipotesis lain untuk misteri ini, silakan tulis di komentar, ya!

_____

Oleh: Detektif Lusi S. Kagie

Kota Ikhlas, 15 Februari 2017

11:24 AM

_____

Catatan:

Kesimpulan di atas hanyalah dugaan sementara dan tidak bermaksud untuk men-judge siapa pun. Tulisan ini ditujukan dalam rangka memenuhi tugas Analisis Kasus Misteri yang diberikan oleh seorang penulis senior. Demikian dan semoga dapat menjadi pembelajaran bersama.

Ketika Harus Memilih (2)

Tuhan selalu memberi pilihan-pilihan dalam hidup kita.

Pasti, minimal ada dua pilihan. Ini atau itu.

Kali ini Tuhan begitu banyak memberiku pilihan. Mereka hadir satu per satu. Tak jarang, pilihan itu hadir di waktu yang bersamaan. Tentu saja aku bingung. Mana yang harus kupilih?

Apakah lagi-lagi aku harus melenggang? Meninggalkan mereka lalu fokus ke satu tujuan awal? Atau haruskah aku memilih berbelok ke kiri atau kanan? Atau harus berbalik arah?

Mungkin Tuhan sedang mengujiku. Menguji sekuat apa niat dan tekadku.  Mungkin juga Tuhan sedang memberiku pilihan yang lebih baik.

Tuhan, beri aku pertanda.

____

Kota Ikhlas, 26 Januari 2017

7:47 PM

[LAGU] ‘Kan Mengudara

‘Kan Mengudara

Lirik/Lagu: Lusi S. Kagie
Beat: 6/8

INTRO
C.. Cmaj7.. F.. F(b5).. Am.. Asus2.. G.. G.. (2x)

[VERSE 1]
C.. Cmaj7.. C.. Cmaj7..
Awan
F.. F(b5).. F.. F(b5)..
Berarak di sana
Am.. Asus2.. Am.. Asus2..
Seperti kapas yang terbang
G.. G.. G.. G..
Membentuk anak beruang

[VERSE 2]
Cinta
Tak perlu kau tanya
Ia ‘kan selalu ada
Bersamamu, menjagamu

[CHORUS]
C.. Cmaj7.. C.. Cmaj7..
Mimpi kita ‘kan mengudara
F.. F(b5).. G.. G..
Bagai awan yang menghias angkasa
C.. Cmaj7.. C.. Cmaj7..
Yakinilah dan tetap percaya
F.. F(b5).. G.. G..
Pada Kuasa, pada takdir-Nya

INTERLUDE
C.. Cmaj7.. F.. F(b5).. Am.. Asus2.. G.. G.. (2x)

[VERSE 3]
Kata
Tak lagi bicara
Namun tangan ini ada
Menggenggammu, menjagamu

CHORUS 2X

CODA
C.. Cmaj7.. C.. Cmaj7..
Untuk kita
F.. F(b5).. F.. F(b5)..
Untuk kita
G.. G.. G.. G..
Untuk kita
C.. Cmaj7.. C.. Cmaj7.. C
Untuk kita
____
Kota Ikhlas, 17 Januari 2017
11:16 AM

(Diinspirasi dari Film “Up”)

Senja Tak Pernah Berbohong

Siapa yang tak mengenalmu? Langit kemerahan yang membuatku terpaku. 

Benar kata orang,  “Waktu tak pernah menunggu!” Tidak juga kau. Senja. 

Senja,  tak pernah berbohong. Senja,  tak mungkin berbohong!

Perlahan, kupeluk senja itu. Jujur, aku masih rindu. “Tapi aku harus pergi!” kataku dengan mata basah. 

“Tunggu sebentar lagi …” katamu merayuku. 

Aku tahu,  kau tak mungkin berbohong. Kau baik. Tapi bukan berarti kau selalu benar. Kau cinta dan aku rindu.  Tapi bukan berarti harus bertahan. Semua ada waktunya. Dan waktuku denganmu sudah habis!

“Aku harus pergi!” Kuulangi sekali lagi. Tanpa menatapmu. Itu berbahaya. “Pagi telah menungguku.”

Kau terdiam. Sungguh, aku tak suka keadaan ini. Aku akan segera mengakhirinya.

Aku akan segera mengakhirinya.

Kubalikkan tubuh. Berjalan meninggalkan senja. Tanpa menoleh. Mataku semakin basah. Hati seperti diremas-remas. Ragaku layaknya mayat, mati rasa!

Aku tahu, jingga akan berganti gelap. Sunyi. Mencekam. Menakutkan. Dan hanya suaramu sebagai penawarnya. Pagi.

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Kota Ikhlas, 22 Januari 2017

9:32 AM

Kamu, Juara Satu!

“Sana, yuk!”

Aku mengangguk cepat dan tersenyum. Tanpa perlu penjelasan, aku sudah tahu kamu hendak mengajakku ke mana.

Jogja kini berubah, terlebih jalanan panjang kawasan Malioboro. Tak lagi ada lalu lalang kendaraan bermotor yang memenuhi jalan. Namun, lampu-lampu jalan itu tetap dan selalu terlihat romantis sampai kapan pun. Satu paket dengan pertokoan dan pedagang kecil yang menjajakan aneka macam barang.

Matahari telah lama bersembunyi, menyisakan satu purnama yang menggantung di atas sana. Dingin tak terasa begitu dingin. Tubuhku aman tertutup jaket tebal warna krem dan jilbab rawis warna peach.

Mataku beralih ke pria di samping kananku. Kamu terlihat tegar dengan hanya memakai kaos hitam favoritmu. Sedari tadi kita hanya berjalan menikmati malam Jogja yang katanya romantis. Dan itu benar 101%!

Kita lebih banyak terdiam, tak banyak bicara. Hanya sesekali saling lempar senyum setiap kali mata kita beradu.

Aku tak pernah menyangka akan pertemuan ini. Lama sudah kita saling mengenal, tapi baru kali ini kita sedekat ini.

Kamu, tak pernah sekali pun terlintas dalam benakku. Ah, aku terlalu abai. Terlalu fokus atas segala hiruk pikuk kehidupan. Bagaimana mungkin pria setampan ini kuabaikan? Tubuhmu cukup atletis dalam porsi yang pas. Aku tak suka yang terlalu berotot memang. Segini, cukup. Dada bidang yang setiap saat bisa kupakai untuk menelungkupkan kepala saat menangis. Bahu lebar yang gratis kusandari setiap merasa terlalu lelah. Atau tangannya yang sangat pas dan nyaman saat menggenggamku. Seperti saat ini.

Tuhan, hidupku indah. Terima kasih telah menghadiahkan ia untukku. Lelaki penggenap agama dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aku mencintai semua yang ada pada dirinya. Mata yang tajam namun hangat ketika melihatku, hidung yang berkeringat saat salah memilih menu pedas di sebuah jamuan makan. Ah, kamu tak suka yang terlalu pedas, sama sepertiku. 

Bibirmu lebih sering mengatup dan lebih sering tersenyum. Aku suka cara kamu tertawa. Aku suka cara kamu berbicara. Aku suka cara kamu melucu. Meski lebih sering garing, tapi aku tetap tertawa mendengarnya.

Aku suka cara kamu berjalan. Pelan tapi pasti. Sepertinya, jarang sekali aku melihatmu terburu-buru. Meski waktu memburumu, kamu tetap tenang namun bergegas. Aku selalu mengingatkanmu untuk jangan ngebut. Meletakkan mantol di jok dan … kantong kresek kosong. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Kamu tak banyak berkomentar tentang masakanku yang masih payah. Aku harus sedikit memaksamu untuk memberi masukan. Pernah suatu hari kamu makan tumis kacang pertamaku. Makanmu lahap dan tak berkomentar apa-apa. Hanya tersenyum.

“Gimana, enak?” tanyaku. Memastikan apakah rasa makananku masih aman untukmu.

Kamu hanya mengangguk, mengacungkan jempol, dan tersenyum. Mulutmu masih penuh dan terus mengunyah.

Usai kamu pergi, aku penasaran dengan hasil karyaku sendiri. Aku cicipi kuah tumisnya sedikit. Tahukah kamu bagaimana reaksiku saat itu?

Aku terbatuk dan hampir tersedak. Rasanya asin luar biasa! Bagaimana bisa kamu setenang itu saat makan tumis asin macam ini?

Buru-buru aku meneleponmu dan meminta maaf. Lalu kau ingat apa jawabanmu saat itu?

“Gak papa, sayang. Makananmu selalu enak. Aku yakin besok pasti semakin enak!”

Ya, Rabb. Seketika itu mataku menghangat. Pandanganku semakin kabur oleh embun yang tiba-tiba tercipta membasahi bola mataku.

Aku selalu dibuat jatuh cinta olehmu berulang kali. Setiap hari!

Duhai, lelakiku … kau sungguh memesona! Seribu kata gombal tak mungkin bisa mendeskripsikanmu. Ah, ini sih alasanku saja. Aku tak pandai menggombal. Kau pun tidak pernah mengajariku menggombal.

Emm, sebentar! Pernah!

Kamu pernah menggombaliku waktu itu. Aku ingat! Kau bilang aku wanita paling cantik, suaraku lovable, dan katamu aku hebat dan kuat (kayak power rangers aja, batinku). Aku suka caramu menggombal meski sedikit kaku, dan meski aku tak pernah tahu apa hubungan antara tema gombalan dengan topik utama kejadian perkara saat itu. Membuatku tertawa dalam hati begitu menyadarinya.

Itu kau lakukan saat aku sesenggukan meratapi kejadian tragis akibat ulahku sendiri. Aku lupa mematikan kompor hingga nasinya benar-benar tidak layak untuk dikonsumsi makhluk jenis apa pun. Hahaha! Sungguh hari yang berkesan. Akhirnya, kita pergi kencan untuk cari makan di luar dengan mataku yang masih sembap. Memalukan!

Tentang nasi itu, aku sungguh merasa sangat berdosa. Lalaiku tak termaafkan jika sudah berurusan dengan nasi. Tapi kamu selalu bisa membuatku tenang dan bijak untuk memaafkan diri sendiri. Hingga dalam hati aku berdoa semoga hal ini tak pernah terjadi lagi. Jangan sampai!

Duhai, lelakiku. Segala tentangmu selalu mengesankan.

Kini aku tepat sedang duduk di sampingmu, menunggu pesanan wedang ronde dan jagung rebus di trotoar Nol KM yang belum begitu ramai. Kau menangkapku basah-basah saat bola mataku sedang khusyuk memerhatikan setiap inci garis wajahmu.

“Ada apa?” tanyamu pelan sambil melambaikan tangan di depan mukaku. Bermaksud menyadarkanku dari tatapan tak berkedip.

Aku terlonjak, dan spontan menjawab, “kamu cakep!” kataku sambil meringis malu.

Sejelek apa pun kamu di mata orang lain, bagiku kamu lelakiku yang paling tampan di seluruh dunia. Kamu, selalu juara satu! Yeah!

Mendengar jawabanku itu, kamu tergelak. Lalu merangkul dan mengusap kepalaku gemas. Dan aku menikmatinya.

____

Kota Ikhlas, 17 Januari 2017

11.53 PM

#FiksiLusi #cerpen #romance

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang tepat!

1. Bagaimana kamu bisa menilai bahwa inilah saatnya kamu menikah?

2. Tanda-tanda apa sajakah yang bisa dilihat secara kasat mata maupun perasaan batin bahwa dia adalah jodohmu?

3. Apa yang harus kamu lakukan saat dihujani banyak kode maupun bahasa verbal dari orang-orang yang mengajakmu menikah?

3,5. Lalu apa yang akan kamu lakukan saat orang yang kamu anggap jodohmu adalah dia yang belum bersiap?

Hati manusia adalah milik-Nya.

Hati manusia adalah milik-Nya.

Apa yang Mereka Inginkan?

Orang bodoh, ingin terlihat pintar. Orang pintar, pura-pura bodoh.

Orang kaya berlagak miskin. Orang miskin berlagak kaya.

Orang cantik ingin jelek biar aman. Orang jelek ingin cantik.

Anak kecil terlihat lebih dewasa. Orang dewasa bertingkah seperti anak kecil.

Orang sakit ingin sehat. Orang sehat pura-pura sakit.

Orang sibuk ingin berlibur. Orang nganggur ingin sibuk.

Orang merantau ingin pulang. Ketika sudah di rumah ingin merantau.

Orang single ingin menikah. Ketika sudah menikah pura-pura single.

Orang mati ingin hidup kembali. Yang masih hidup ingin mati.

Apa yang mereka inginkan?

____

Kota Ikhlas, 15.01.2017

9:28 AM

Get Well Soon

Sejak tadi malam, badan saya sangat tidak enak. Rasa ngilu menjalar ke seluruh tubuh dan sendi, dingin pun merambat setelah keramas cukup lama. Kupikir tidak akan sedingin ini.

Sebelum tidur, saya kondisikan semuanya senyaman mungkin. Saya pakai jamper hitam tebal yang sangat hangat -pemberian seorang teman. Saya ambil dua selimut dan kupakai untuk menutupi seluruh tubuh.

Satu jam berlalu, mata belum bisa terpejam. Tidur miring kanan, miring kiri, tak ada yang nyaman. Bibir saya merintih menahan rasa tidak enak.

Hingga akhirnya aku bisa terlelap dengan sendirinya. Pukul 2 malam saya terbangun. Tapi tak banyak yang bisa kulakukan, hanya mengecek jam di ponsel, lalu tidur kembali.

Pukul 5 pagi saya terbangun lagi. Saya tunaikan kewajiban pagi meski air terasa masih begitu dingin seperti air es. Usai ritual tersebut, saya kembali meringkuk setelah meminum seteguk air putih yang terasa tidak enak di mulut.

Pukul 7 pagi saya bangun lagi, mau pipis. 😄 Lalu kembali ke kamar setelah sebelumnya berpapasan dengan Hacker, ponakan semata wayang saya. Dia memakai jaket pink dan kaus kaki panjang. Ternyata dia sakit juga. Kami hanya saling menatap dengan tatapan yang lemah.

Kami merasa sesakit sepenanggungan. Kuingat-ingat lagi, kemarin Hacker memintaku untuk memijit kaki dan tangannya waktu tiduran di kasurku. Mungkin saat itulah badannya sudah terasa tak enak.

Get well soon, Hacker. Kalo sakit, jangan ikut-ikutan lah ….

NOVEL PERTAMA

Saat menulis ini, aku sedang bertatapan dengan kipas angin. Aku menatapnya, ia menatapku. Romantis, bukan? Aku sedang berusaha mengingat-ingat moment apa yang paling berkesan saat kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu banyak, dan aku harus memilih satu untuk diceritakan. Tentang kipas ini, entahlah, aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Ah, ya!

Pak Darpangi adalah guru favoritku di Sekolah Dasar. Beliau adalah sosok yang humoris, bijak, dan karismatik. Aku pernah menjadi muridnya selama dua tahun, waktu kelas 5 dan kelas 6. Moment yang kupilih ini terjadi saat aku duduk di kelas 6 SD.

Aku ingat betul, saat itu …

“Hen, udah nulis lagi? Mana?” kata Asih meminta lanjutan cerita yang kutulis di buku.

Kami bersepakat untuk saling tukar tulisan dan saling membaca. Aku menulis novel tentang persahabatan, dia menulis tentang cerita Romeo dan Juliet ala dia sendiri. Setiap hari kami menulis di rumah, dan saling tukar keesokan harinya di sekolah.

“Udah, nih. Mana punyamu?” tanyaku. Asih memberiku buku tulis bersampul cokelat. Kami menulis cerita masing-masing dengan pensil dalam sebuah buku tulis Sin*r D*nia, merk buku tulis paling populer.

Sebelum Pak Darpangi masuk kelas, kami gunakan kesempatan itu untuk membaca. Tenggelam dalam bacaan masing-masing, hingga tak menyadari bahwa Pak Darpangi sudah duduk manis di kursinya. Aku pun menoleh setelah merasa ada penampakan besar di meja depan. Ah, benar!

“Baca apa, Hen?” tanya Pak Dar, menangkapku basah-basah ketika hampir menyembunyikan buku ke laci meja. Duduk di bangku terdepan membuat beliau mudah melihat apa saja yang kulakukan.

“Em, ini. Buku cerita, Pak,” jawabku takut-takut sambil menyerahkannya ragu-ragu ke Pak Dar. Gawat!

“Yang ini punya Heni, Pak!” Asih yang duduk tepat di belakangku tiba-tiba memekik. Kalimatnya membuat tubuhku kaku di tempat, serasa habis dipukul pakai palu! Pak Dar pun menerima buku cerita tak bersampul milikku dari tangan Asih. Oh, no!

Pak Dar kembali ke kursinya sambil membawa dua buku. Ia baca satu-satu. Dag-dig-dug-der! Perasaanku tak karuan. Suara tawon teman-teman sekelas pun tak kudengar lagi. Seperti mendadak hening, hingga aku bisa mendengar degup jantungku sendiri.

Kata demi kata yang berderet acakadut membuat Pak Dar tersenyum dan mengangguk-angguk seperti boneka di mobil. Gerakan khas Pak Dar yang membuatku geli melihatnya.

Aku tak bisa mengingat detail kalimat panjang Pak Dar setelah membaca ‘novel’-ku. Pada intinya, beliau memberi kami motivasi untuk tetap dan terus menulis.

Tiba di pertengahan semester, Pak Dar menunjukku untuk mewakili sekolah mengikuti Lomba Membuat Sinopsis Cerpen tingkat kecamatan.

“Sinopsis itu apa, Pak?” tanyaku polos, belum mengenal Mbah Google saat itu.

Hei, kipas! Aku sudah selesai bercerita. Sekarang giliran kamu. Apa yang sedang kau pikirkan, hah?

____

Oleh: Lusi S. Kagie

Kota Ikhlas, 10 Januari 2017

9:50 PM

copy-of-13658949_10207184394033673_6389465137603964899_n

Menjadi Freelancer

Bekerja sebagai freelancer itu menyenangkan.

Yak, saya pernah merasakan bekerja di beberapa tempat. Ada yang sistem shift (nulisnya gimana, ya?), ada yang jam kerjanya tetap. Pekerjaan yang dilakukan hampir sama setiap harinya. Rutinitas kerja yang seperti itu membuat saya cepat bosan dan merasa kurang tertantang.

Berbeda dengan freelance. Kita yang aktif mencari peluang, lalu bekerja sesuai deadline dari klien. Waktu kerjanya sangat fleksibel asalkan bisa beres pada waktunya. Bisa jadi, ketika orang lain sedang liburan, saya malah mati-matian mengejar deadline. Kamar seperti kapal pecah karena berisi tumpukan kertas di mana-mana, laptop dan ponsel menyala, aktif. Di lain waktu, ketika orang lain sedang giat bekerja, saya malah asik-asikan baca novel, nonton film, atau jalan-jalan cari mie ayam. 😀

Begitulah. Menyenangkan dan antimainstream. Haha. Saya bisa mengatur waktu sendiri. Jika sedang tidak enak badan, saya bisa bebas beristirahat. Atau ketika ada proyek pun, waktu istirahat bisa saya atur sendiri, kapan harus tidur, kapan harus kerja.
Karena fleksibilitas waktu tersebut, saya bisa bebas pula mencari kegiatan lain, misalnya menulis atau berjualan. Dua kegiatan ini bisa dilakukan bersamaan kadang.

Setiap jenis pekerjaan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Freelancer juga punya tantangan untuk mengelola rasa malas, menunda-nunda waktu, atau perubahan fokus. Kita harus menjadi boss atas diri kita sendiri. Memacu diri untuk bersemangat, memberi hadiah saat proyek usai, maupun memberi ‘Surat Peringatan’ saat tidak disiplin.

Saya bersyukur bisa bebas memilih jalan hidupku sendiri dengan segala konsekuensinya.

Apapun pekerjaan kamu, syukurilah. Bisa jadi, apa yang kamu anggap menjenuhkan, pekerjaan itu menjadi dambaan banyak orang, bukan? But, follow your heart!

____

Kota Ikhlas, 09.01.2017

10:33 AM